Who Am I??

Ada penulis puisi yang sering memperlakukan puisi seperti surat atau buku harian. Ia bercerita dengan semudah dan selengkap mungkin, mengungkapkan perasaan yang sedang melanda di suatu saat, sehingga tulisan itu menjadi semacam catatan sejarah yang nantinya dapat dijadikan sebagai pengingat kenangan. Cara penulisan semacam ini mendorong penulis untuk mengadopsi kalimat-kalimat lengkap, sementara kalimat-kalimat lengkap seringkali menjadi agak berlebihan untuk sebuah puisi.

Yang menjadi ciri utama puisi-puisi GS adalah sifat religius yang sangat kental. Melalui puisi-puisinya, dapat dikatakan seolah-olah dalam setiap hembus nafasnya, GS selalu menyertakan Tuhan. Sifat religius yang dominan ini dapat terbaca secara mudah dari pilihan katanya, dalam larik demi larik, juga dalam judul. Bahkan, ketika membicarakan fragmen kehidupan, GS selalu melihatnya dari sisi sebagai makhluk Tuhan yang tidak sempurna. GS tidak melihatnya dari sisi “ada” dirinya sendiri, sebagai manusia yang berurusan langsung dengan masalah itu, tetapi selalu menghubungkannya dengan Tuhan sebagai penguasa semesta, sebagai pencipta kehidupan, dan yang berkuasa atas segala yang terjadi dalam kehidupan kita

Selain sifat religius yang kental, GS juga tampak tampil membawa warnanya sendiri. Ia tidak tergoda untuk menulis puisi seperti penyair A atau penyair B. Ia tidak terbebani untuk menjadi epigon belaka. Inilah yang membuat puisi-puisi GS tampil bening dan tenang.

Mungkin nota pendek ini tidak terlalu penting, tetapi saya berharap GS dapat terus meningkatkan diri dalam berkarya. Jangan pernah berkata “aku lelah, akhirnya aku pejamkan mata hatiku,” karena melalui mata hatilah kita dapat melihat kedalaman.

*) Medy Loekito, penyair, tinggal di Jakarta
**) Asvega, penyunting esai GS, pelajar, tinggal di Singapura

TrackBack Identifier URI

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.