Kenapa saya memberi judul kumpulan puisi saya :Cermin Tak Pernah Retak??
Seperti yang kita tahu cermin adalah refelksi bayangan kita, namun cermin yang biasa kita lihat adalah cermin yang memperlihatkan kita secara indrawi, kita bisa melihat setiap detail bentuk fisik dalam cermin itu. Dan pula secara tidak sadar seringkali kita lihat ketidak puasan kita terhadap refleksi yang mucul dalam cermin itu, ada jerawat, ada komedo, ini gak pantes, itu kurang rapih dll.
Namun cermin dalam “Cermin Tak pernah Retak” adalah cermin yang memperlihatkan hasil dari apa yang kita perbuat. Apa yang kita buat, niat yang muncul untuk berbuat adalah refleksi dari apa yang telah kita perbuat dan apa yang menyebabkan kita berbuat. Namun secara sadar ataupun tidak sadar pernahkah kita lihat ada cela? ada borok, ada nista dari apa yang telah kita perbuat? apakah kita pernah mencoba memperbaikinya, menyembuhkannya? merapihkannya? hanya sedikit dari kita yang pernah dan sedang melakukannya.
Puisi puisi ini merupakan curahan hasrat yang tak pernah terucap, merupakan kepengecutan raga atas apa yang dirasa. Merupakan laku atas apa yang tak pernah berlaku, Merupakan tanda atas apa yang dianggap tak ada. Puisi puisi ini adalah cermin diri dari hati yang tak pernah mati.
CERMIN TAK PERNAH RETAK, dia akan terus abadi, meski raga sudah terkubur tanah, meski nyawa sudah berpeluk denganNYA.
2 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI

demi komentar:
1. badan dikubur, jiwa mengukur, ruh kembali kepada Tuhan.
2. bisa kubayangkan, antologi “cermin tak pernah retak” ini akan berisi banyak puisi yang berkait dengan urusan jiwa (sesuatu yang gaib, sesuatu yang lembut, sesuatu yang ajaib, dan sesuatu yang hidup di balik raga), karena memang jiwalah yang mendirikan raga sehingga bisa merasa dan memiliki perasaan.
demi puisi:
CERMIN TAK PERNAH RETAK
menghadapkan wajah di bidang cermin
gelisah kubawa lari dan bertanya-tanya:
jika aku dilahirkan dalam keindahan,
mengapa kelak ia luntur dan tak indah lagi?
jiwa ngingsut menyelisir dan mendesir
seperti ular mengejar mangsa dan bertanya-tanya:
ini raga sampai kapan berhenti meminta
kenikmatan materi dan melepas kefanaan duniawi
bukanlah dunia ini dicipta untuk dijunjung tinggi
tapi dunia ini dicipta untuk diletakkan
di bawah telapak kaki
(Moyank – Balikpapan, 11 Mei 2007)
Riuh benar apa yang dikata
senyaman jiwa bersandar raga
Terimakasih Bang.