Indonesia kembali menangis – Jogja

Senyum belum sepenuhnya ikhlas terkembang karena luapan kesedihan akibat Tsunami di ujung barat Langit belum sepenuhnya terang karena tersapu kabut kelabu dari semburan mahadaya Merapi Pun Keceriaan belum sepenuhnya hadir dari media karena semua acara dijejalin adu manusia, sumpah serapah dan kelakukan nista Roda belum sepenuhnya bisa berputar kembali terpuruk dengan naiknya semua bahan pokok [...]

Olah Nurani

Indah Itu kata pertama yang aku katakan, melihat kepiawaiannya bertutur Getaran pita suaranya mampu meruntuhkan selaput bening dimataku Sakit Kata berikutnya yang mampu aku ucapkan ketika lengkingan suaranya membawa makna kepedihan yang teramat dalam Lalu tiba-tiba!! gemulai tekukan betisnya yang indah, busungan dadanya yang baru tumbuh, dan lentiknya jemari mengeliat-geliat mencari sebuah dimensi hentakan kakinya [...]

Berzinah pada puisi 2

Ketika hitam menjadi lebih hitam itu sebenarnya putih bagiku Ketika bau amis mulai membusuk itu sebenarnya pewangi tubuhku   Bagaikan dendam diatas pilu Bagaikan putus asa didalam ragu Bagaikan dosa diantara nafsu Itu adalah Aku Sejengkalpun tak akan pernah pupus Selama kehidupan masih terasa hidup   Ketika diammu dalam belenggu Ketika laparmu dalam haru Ketika [...]

Berzinah pada puisi

Lebih baik tenggelam dalam ketidakberdayaan Tak usah tanganmu menggapai asa Harapan sudah lama sirna tertelan nista   Percuma kau gerakan raga menghiba Sudah tiada lagi manusia bermata Percuma teriakan suara lantang Sudah tiada lagi manusia berteinga Percuma kau singkapkan kenyataan Sudah tiada lagi manusia yang mempunyai rasa   Suaramu hanya menimbulkan petaka Bagi orang yang [...]

Pujangga Kaum Papa 2

GubukĀ  reyot ini semakin gulita setelah lampu minyaknya padam direngkuh angin kemurkaan. Pusarannya memutar raga memaksa berpindah kiblat   Berkata tapi tak bersuara Berontak tapi tak bergerak Ikatannya begitu kencang melilit badan yang tak terawat   Hanya tinggal rasa yang belum terjerat Karena harganya tak dapat ditawar   Itulah sisa harta yang lama kupendam Kini [...]

Pujangga kaum papa

Wahai Teriakanlah sedikit kebenaran Pangkalnya dilidah kami Ujungnya dilidahmu   Suarakanlah getaran tenggorokan kami Tak bisa kami berteriak lebih keras lagi Karena ususku telah kupendekkan supaya bisa kenyang oleh sebutir nasi Tenagaku sudah kukumpulkan pada kedua lengan Supaya sanggup untuk memohon kepadaNya

Pujangga Berbaju Tentara 2

Akan kuabdikan seluruh jiwa ku Akan kuabdika seluruh ragaku tapi untuk apa? Untuk siapa?   Beningnya embun pagimu aku hirup untuk melepas dahaga Halusnya kain sutramu telah membungkus kulitku untuk menghangatkan Jiwa Semuanya sirna tanpa makna , rasa syukur melayang entah kemana   ketika tangisan anak dipangkuan sang Ibu tidak berhenti karena kakinya tertimbun batu [...]

Pujangga Berbaju tentara 1

Teramat indah untuk dilukiskan ketika dalam hati mulai bermekaran bunga bunga kecil Merah, Kuning, Hijau dan Ungu. Wahai Adinda, lelakimu sedang diam seribu bahasa Isi otaknya sedang melayang mencari cari Tapi sayang, bukan mencarimu Tapi mencari sebuah kata yang pantas untukmu, sebuah kata perpisahan.   Saat itu Ketika kerlipan bintang terhalang oleh awan yang menghitam [...]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.