Ber-sia dalam waktu

Merenda ujung baju dengan kait bermanik

Dengan canting sisinya kubatik

Sulaman benang emas menghiasi diantaranya

larut aku dalam imaji, sungguh!! sampai terlupa membuat lubang buat kepala dan tangan

makan pagi,siang dan malamku

Celoteh dalam periuk

menunggu untuk disantap

namun diam tak jua beranjak

mengapa?

Menunggu Buku KirimanMU

Buku kirimanMU hampir sampai, bisik kalbuku
Meski jalan penuh dengan jurang ragu
Namun aku berusaha untuk mendapatkan kabar itu

Sejuta benderang menerpa raga yang sedang gembira
Ribuan cahaya menerpa jiwa dimana mana
Seakan lupa diri pernah merana

Tinggalkan saat sekarang demi bersiap menjemput
Segala lakupun aku rajut untuk bersambut
Waktu menunggu sebentar lagi berlalu
Tak sabar menulis lagi dilembaran yang baru

Apa daya jam dinding kembali tak berdentang
Jiwa pun resah dihinggapi rasa tak tenang
Kegalauan ditumpangi bimbang
Karena sayap waktu diam tak mau terbang

Dalam biruku aku mengaduh untuk keseribu kali
Kenapa semua harus pernah kulalui
Tanpa sedikit yang tersisa untuk kumilki
Siksa aku lagi untuk keseribu kali
Karena sekarang aku sudah tak perduli

Hianatkah aku meninggalkan saat sekarang?
Demi sang waktu yang segera akan datang
Hinakah aku tak segera membelai samudra lapang
Demi bahtera yang segera akan menerjang

Mengikuti merah yang mengalir dalam darah
Mengikuti pahit pada sayatan kecil pada kulit
Mengikuti hening dipipi yang tak lagi bening
Mengikuti abu pada jiwa yang tertutup kabut
Aku masih menunggu

Buku kirimanMU

Kuasa Jiwa

Aku punya berjuta kata jauh dirongga dada

Aku punya berjuta mimpi yang indah tentang kita

Aku punya cita tentang meraih gemintang

 

Namun

Aku tak punya mulut buat berucap

Aku tak punya raga untuk berbuat

Aku tak punya asa untuk menggapai

 

Aku hanya berjalan dengan mata kaki

Aku hanya berbisik dengan kata hati

Aku hanya melihat dengan jiwa yang pernah mati

 

Kutau itu tak cukup nyata untuk terlihat

Apalagi terasa karena tak mampu untuk bersua

Namun batin sempat bicara

Biarlah rasa yang kini berkata

Bahwa sejuta sayang yang pernah kupunya

Telah terpenjara dalam jiwa yang sedang bertanya

 

Benarkah kamu mencintai saya??

—–

Anaku sang Hijau

Kuningnya begitu cerah membawa keceriaan dimana mana
Pun pada saat senja tak khan indah sang jingga pabila dia tak menghiasi redupnya surya
Kuning menjadikan duka jadi ria karena dia mebawa tulus pesona jiwa
Kuning pun tersapu pada kosongnya jiwa yang mulai merana

Teduhnya biru menyapa kalbu membuat siapapun merasa rindu
Mengejewantah ia dalam warna laut yang tak pernah larut karena surut
Biru terlalu kaku untuk bersambut, namun setelah bertaut tak khan mampu untuk tak ikut
Biru pun berbaur memeluk galau dalam kalbu yang tertutup kabut

Dengan tirai bambu mereka berpadu
Sungguh tak nyaman dalam laku
Selalu terdiam dalam ragu
Tanpa ada yang mau berburu pada sang guru

Enyahkan tirai bambu
Biarkan mereka bersetubuh dalam gemuruh
Ciptakan gradasi indah dalam rianya
Sehingga muncul sebuah warna
Yang tak kalah indah dengan aslinya

Tidak lah cukup sembilan bulan mengandung sang jabang bayi
Dengan segala upaya dan tak hingganya sang letih
Seratus tahun mungkin akan menuai sakit
Akan sepadan karena dia ciptaan langit

Dialah anak campuran biru dan kuning
Sang Hijau lahir atas nama cinta
Bersyukulah ada beda warna
Karena akan melahirkan sebuah maha karya
Warna titipan NYA.

Asa 2

Saat itu akan berlalu
namun rintang siap berlaku
hanya meminta pada yang punya AKU
semoga celah cukup terangi abuku

Rindu BisikMU

Ketika nestapa, aku berdoa
DIApun berbisik; nestapa tidak hina namun awal dari redanya duka

Ketika duka, aku berdoa
DIApun berbisik; duka bukan lara namun awal dari bahagia

ketika suka, aku berdoa
DIApun berbisik; bahagia bukan suka tanpa cela

ketika kadar ikhlas terkumpul, aku berdoa berucap syukur.
DIA tidak berbisik

kutunggu bisikanNYA
DIA tidak berbisik

kunanti bisikanNYA
DIA tidak berbisik

Akupun berdoa
TUHAN aku rindu duka dan nestapa
Aku rindu bisikMU

Pintaku yang ke 1002

Tuhan,
Buku yang KAU titipkan lewat lembutnya jemari ibu dan wibawanya ucap bapak sudah penuh
Aku habiskan dengan menggambar apa yang pengen aku gambar
Aku sapukan kuas berwarna merah, jingga, kuning, hijau,biru dan ungu
kadang garis lurus, melengkung, bulat juga spiral

“eh lupa ada yang sobek dibeberapa halaman karena waktu itu aku berantem sama adek dan kakaku”

Tuhan
Buku yang KAU titipkan lewat belaian Ibu dan hangatnya dekapan bapak kini sudah kumal
Pun tak kudapati lagi sisa kosong didalamnya
Bahkan sampulnyapun sudah penuh dengan coretan hidup

Tuhan
1001 satu doaku mungkin sudah sampai kepadaMU
1001 kabulpun mungkin sudah sampai kepadaku
Satu pintaku saat ini
berikanlah buku baru yang pernah KAU janjikan dalam kalammu
Sebagai awal lakuku menuju dunia yang baru

Pipit kecilku

Pipit kecil itu hinggap dijendela ruangku
membangunkan mimpi yang selalu buruk
kepakan sayapnya jewantahkan kekuatan lain dari mungilnya raga

Pipit kecil itu bertengger dijendela ruangku
menyibakan tirai  membuka keindahan yang masih tersisa
kedipan matanya pancarkan keluguan dari rasa

Wahai pipit kecilku
masuklah kedalam ruangku yang berpilar rindu berlumut
terbanglah diantaranya, hinggaplah dimanapun kau suka

Wahai pipit kecilku
bentangkan sayapmu meski kau tak terbang
nantikan sebuah hangatnya rasa
buih hati yang sedang membara

pipit kecilku
ruangku bukan untuk mengurungmu
tapi jadikanlah tempat untuk kembalimu

Rindu pada matiku

 

Rinduku setengah mati untuk bertemu denganMU

namun jalanku masih kucari menujuMu

cahayaNya masih terhalangi rimbunnya kesejukan yang memanjakanku

Rinduku setengah mati untuk bersimpuh dihadapanMU

namun lalukuku masih berliku

jalanNYA masih terhalang banyaknya pohon yang menopangku

Rinduku setengah mati bukan untuk mati

namun untuk hidup disampingMU

—–